Summer Star
Musim panas telah
berjalan selama 1 minggu. Seperti namanya, cuaca menjadi lebih panas dari
biasanya. Tidak hanya di pagi ataupun siang hari, rasa panaspun juga terasa
saat malam hari. Sampai berselimutpun aku tidak tahan memasangnya.
Lalu, dengan situasi
panas ini apa kau jadi membenci musim panas?
Aku? Ya,
terkadang aku juga membenci musim panas. Disamping karena matahari yang semakin
terik disetiap hari mulai siang, badan pun juga menjadi lebih berkeringat.
Tapi, aku juga
menyukai musim panas. Kenapa? Karena langit malam di musim panas menjadi semakin
indah. Banyak bintang-bintang yang cantik. Mereka berjajar seperti layaknya
semut yang membuat sebuah barisan bintang yang sangat panjang. Dari mulai bintang
dengan pancaran cahaya yang kecil sampai bintang yang paling terang bersinar.
Bintang-bintang itu
seperti tumpah ke langit malam yang hitam dan gelap. Menyinari dengan sinar
mereka dan membuat langit malam musim panas menjadi lebih indah.
Tapi, kau tidak akan
bisa melihat barisan bintang-bintang seperti itu di kota. Karena cahaya lampu
kota dan lampu dari gedung-gedung yang menjulang tinggi terlalu menyilaukan
bagi bintang-bintang yang memiliki pancaran sinar kecil dan menjadikannya redup.
Aku belum pergi
kemanapun selama satu minggu ini sejak musim panas dimulai. Tapi aku mulai
bersiap untuk pergi ke vila keluarga kami. Kakak ku memutuskan untuk mengajak
ku pergi mengunjungi vila keluarga selama musim panas ini.
Aku sudah selesai
membereskan barang bawaan yang akan aku bawa besok pagi. Selama membereskan
barang bawaan, pikiran ku melayang pada musim panas tahun lalu. Mengingat
kembali musim panas saat ayah dan ibu masih berada bersama kami. Aku
menyandarkan tubuh ku di samping tempat tidur. Ingatan tentang musim panas
tahun lalu membuat ku mulai merindukan mereka.
Aku mulai beranjak
dari tempat duduk ku dan membuka pintu balcon kamar ku. Angin musim panas mulai
menyeruak masuk saat pintu mulai ku buka. Ya, angin musim panas yang khas. Ku
langkahkan kaki ku keluar untuk melihat pemandangan malam musim panas. Angin
musim panas sepoi-sepoi berhembus mengelus lengan ku yang tak tertutup oleh
lengan baju. Menyegarkan sekali.
Ku putuskan untuk
menikmati angin musim panas ini sebentar, sembari beristirahat setelah mengepak
barang bawaan. Aku berbaring di bangku balcon.
Sungguh pemandangan
musim panas yang sangat menarik. Saat mulai ku rebahkan tubuh ku di bangku
balcon, indra penglihatan ku langsung saja menangkap pemandangan indah dilangit
malam musim panas Tokyo. Ya, pemandangan bintang musim panas yang indah. Bintang-bintang
itu bersinar seenaknya sendiri. Menyebar cahaya indahnya pada langit malam yang
gelap. Tak terasa tiba-tiba ada sesuatu yang menarik bibirku hingga membuat
garis senyuman disana. Bintang-bintang itu sekali lagi telah melakukan hal yang
seenaknya sendiri.
Cukup lama
pemandangan langit malam itu berhasil membuat ku tersenyum. Tiba-tiba pikiran
ku kembali melayang ke masa lalu. Samar-samar aku teringat dengan kenangan masa
kecil ku bersama ibu. Kenanangan yang menunjukan kebersamaan kami di sebuah
malam berbintang yang indah.
"Waaah.... Cantik..." ucapku waktu itu
dengan wajah penuh senyum takjub.
"Benar sekali! Bintang-bintang ini akan selalu membuat langit
malam yang gelap menjadi indah. Meski musim berganti, tapi mereka tidak akan
pernah meninggalkan langit malam. Mereka akan tetap disana dan membuat semua
orang iri dengan cahaya yang mereka pancarkan." ucap ibu.
Aku setuju dengan
apa yang diucapkan ibu. Bintang adalah ciptaan tuhan yang paling setia. Mereka
akan tetap berada disana meski matahari mencoba menyamarkan cahaya terangnya.
Mereka tidak pernah menyerah dan tetap berada di sana meski awan mendung mencoba
menghalangi sinar mereka. Begitu malam mulai turun dengan cuaca cerahnya,
mereka mulai berlomba memancarkan sinar mereka dan mulai melukiskan keindahan
di langit gelap.
Andai aku bisa
menggapai dan mengambilnya satu untuk ku, akan ku simpan dalam wadah dan
menjaganya tetap bersinar terang. Sayangya bintang-bintang itu terlalu jauh
disana.
"Iya ya...!" ucap ibu setuju. "Tapi sayangnya kita tidak akan pernah bisa
memilikinya sampai kapanpun." lanjut ibu. "Bintang-bintang itu sangat jauh dari kita. Kita tidak
akan pernah bisa menggapainya. Berapa kalipun kita coba, kita tidak akan pernah
bisa menggapainya."
Ya. Mereka
benar-benar seperti membuat orang lain iri. Bisa melihat keindahan mereka
dengan pola dan bentuk yang macam-macam saat memancarkan cahaya, tapi tidak
bisa satupun dari kita yang dapat memiliki satu dari mereka. Sampai saat ini
pun aku hanya bisa memandang mereka dari bawah sini. Memandangi mereka di
setiap musim berganti, dan disetiap tempat yang berbeda.
Meski begitu tangan
ku ini tetap ingin meraih mereka. Menjangkau mereka hingga aku benar-benar
mendapatkan satu diantara sekian banyak bintang. Merasakan bagaimana memegang
mereka pada genggaman tangan ku sendiri.
Ku coba mengangkat
tangan kanan ku ke atas. Kupilih satu yang paling terang diantara semua bintang
yang ada. Ku coba mengambilnya dengan telapak tanganku.
Dan saat kurasakan
dan kulihat, disana hanya telapak tangan yang kosong. Tetap tidak bisa!
"Sayang sekali ya, ibu?" ucap ku tiba-tiba.
"Mencoba menggapai bintang-bintang itu sama seperti
saat kita mencoba menggapai impian kita. Memilih salah satu impian yang paling
kita inginkan. Mulai mencoba untuk menjangkau mereka dengan segenap tenaga dan
pengorbanan. Tetap mencoba meraih mereka meski langit mendung dan badai mencoba
menghalangi." itulah yang dikatakan ibu saat itu.
"Berarti Mika tidak akan pernah bisa menggapai mimpi
Mika?" tanyaku saat itu kemudian.
"Itu hanya perumpamaan sayang." jawab ibu.
"Sebuah impian sama jauhnya dengan
bintang. Tapi dengan usaha dan kerja keras, Mika pasti bisa menggapai mimpi
Mika dan mendapatkan mimpi Mika sendiri seberapa jauh pun mereka."
dukung ibu.
"Benarkah..?" tanyaku memastikan.
"Tentu saja!" jawab ibu. "Bintang adalah benda
yang hanya bisa kita lihat dan nikmati keindahannya. Tapi impian adalah
sesuatu yang bisa kita capai dengan usaha dan kerja keras, tidak menyerah dan
tetap berjuang mendapatkan mimpi kita. Sama seperti bintang-bintang yang tidak
pernah menyerah memperlihatkan dan memberikan cahaya terangnya demi menghiasi
langit malam yang gelap, meski terkadang langit mendung menutupi mereka, mereka
tetap berada disana." jelas ibu.
"Mengerti Mika?" tanya ibu sedetik
kemudian.
"Hem!" jawab ku penuh semangat. "Mengerti!" tambabah ku kemudian.
"Jadi, Mika sudah tau impian Mika?" tanya
ibu.
"He?" ucapku bingung. "Eeehhm.. Satu!" jawab ku kemudian.
"Apa itu?" tanya ibu penasaran.
"Aku ingin mengambil satu dari semua bintang dilangit!"
jawab ku saat itu.
"Ha ha ha.. Begitu ya... Kalau begitu, berjuanglah, Mika..!?" ucap ibu sambil tertawa.
"He he.. Hem!" jawab ku.
He he.. Aku pasti
masih sangat polos waktu itu. Tapi memang! Sampai saat ini pun aku masih
ingin mendapatkan satu bintang yang paling terang dari semua bintang terang di
langit malam. Setidaknya satu yang bisa menerangi ku saat gelap.
Itu adalah salah
satu impian masa kecil ku yang masih ingin ku wujudkan hingga masa sekarang.
Tapi aku juga memiliki satu impian yang sudah pasti ingin ku wujudkan demi ibu
yang selalu mendukung ku.
Aku beranjak dari
kursi balcon dan berdiri bersandar pagar balcon. Mencoba menikmati angin musim
panas yang kembali berhembus sepoi-sepoi. Mencoba merasakan kesegarannya dengan
menutup mataku dan membiarkan mereka menyentuh tubuh ku.
Saat angin mulai
berhenti, ku buka mataku. Ku tatap bintang-bintang itu sekali lagi. Entah
kenapa saat aku memandangi mereka, kenangan tentang kebersamaan ku dengan ibu
waktu itu mulai memenuhi ruang kepala ku. Satu hal yang pasti yang masih belum
ku katakan pada ibu tentang impian ku. Aku...
TOK TOK TOK
seseorang mengetuk pintu kamar ku. "Ya.." ucap ku.
"Kau belum
tidur, Mika?" dia adalah kakakku.
"Kakak..!?"
ucapku. "Sebentar lagi." jawabku kemudian.
"Kalau kau
sudah selesai mengemas pakaian mu segera pergi tidur. Kita akan berangkat pagi
besok, jadi pastikan kau tidak terlambat bangun." perintah nya.
"Ya, baiklah kakak." jawab ku. Dia lalu pergi meninggalkan kamar ku.
Aku putuskan kembali
kekamar dan segera tidur karena aku sudah mulai lelah karena mengepak
barang-barang untuk besok pagi. Sebelum ku tutup pintu balcon, aku kembali
memandang langit berbintang untuk yang terakhir kali. Pikiran ku kembali ke
masa lalu saat ibu menanyakan impian ku.
"Jadi, Mika sudah tau impian Mika?" tanya
ibu waktu itu.
Ya, ibu! Aku sudah tau apa impianku
"Apa itu?"
Ya. Membuat ibu
bangga dengan semua kerja keras yang ku lakukan demi meraih bintang impian ku.
Dan bersinar seterang mungkin bersama bintang yang lain di langit tertinggi.
Hanya itu, ibu!
"Begitukah? Kalau begitu, berjuanglah, Mika!?"
Ya! Itulah hal pasti yang ingin kutunjukan pada ibu. "Ya, ibu." ucap ku dengan pasti.
~ Muti Chan ~





Komentar
Posting Komentar